Sabtu, 26 September 2020

 

Strategi Guru dalam  Proses Pembelajaran di Masa Pandemi

(Untuk Anak Berkebutuhan Khusus)


         Semenjak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh pemerintah khususnya di Kalimantan Utara, kegiatan belajar mengajar di sekolah ikut merasakan dampaknya. Yang semula kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka dan dilakukan di sekolah, dengan adanya penerapan PSBB maka kegiatan belajar mengajar harus dilakukan di rumah yang kemudian disebut dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memutuskan mata rantai Covid-19 yang sudah menjadi pandemi di seluruh dunia.

Sebenarnya salah satu tujuan siswa belajar di rumah adalah demi mendukung peserta didik ikut melaksanakan himbauan social distancing (jaga jarak). Bagaimana tidak, jika sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa maka ada ratusan murid yang membaur menjadi satu setiap hari, dan tentu saja resiko penularan akan lebih tinggi. Jadi bisa disimpulkan kebijakan belajar dari rumah sangat relevan dengan situasi saat ini. Dengan siswa disibukkan mengerjakan tugas di rumah, tentu ia akan tetap di rumah dan secara tidak sadar ikut melaksanakan himbauan social distancing yang akan amat membantu memutus mata rantai penularan virus Covid-19.

Menghadapi kegiatan belajar mengajar pada masa darurat Covid-19 tentunya menjadi momok tersendiri bagi guru dan orangtua. Perlu strategi yang harus disiapkan guru dan orang tua agar anak tidak jenuh mengerjakan serangkaian tugas pembelajaran.

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa kebijakan pendidikan selama masa pandemi Covid -19 mengalami perubahan. Salah satunya adalah penyesuaian pembelajaran yang tidak membebani guru dan siswa, namun sarat nilai-nilai penguatan karakter seiring perkembangan status darurat Covid-19. Penyesuaian tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada satuan Pendidikan.

Strategi Guru

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mendorong para guru untuk tidak menyelesaikan semua materi dalam kurikulum. Yang penting adalah siswa masih terlibat dalam pembelajaran yang relevan seperti ketrampilan hidup, kesehatan, dan empati. Kemendikbud sudah merancang program belajar dari rumah lewat edukasi berbasis televisi. Program ini menyasar semua pelajar salah satunya anak berkebutuhan khusus. 

Melaksanakan pembelajaran jarak jauh bagi anak berkebutuhan khusus tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kendala yang banyak terjadi adalah kebanyakan anak berkebutuhan khusus tidak memiliki alat komunikasi yang memadai dan cara penggunaannya dengan benar. Juga keterbatasan kemampuan orang tua melakukan pendampingan putra-putrinya. Selain itu juga kendala yang dihadapi anak berkebutuhan khusus adalah kondisi fisik yang dimiliki.

Strategi pertama yang bisa dilakukan selain belajar melalui media TV adalah dengan pembelajaran secara daring (online learning), sehingga guru dan siswa dapat berkomunikasi secara interaktif dengan memanfaatkan media komunikasi dan informasi. Banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran daring seperti Whatsapp Group, Google Clashroom, Quizzi, Zoom, dan lain-lain. Aplikasi whatsaap cocok digunakan, karena pengoperasiannya sangat simple dan mudah diakses anak berkebutuhan khusus. Memberikan tugas belajar mandiri melalui WA dengan berkolaborasi peserta didik dengan orang tua dalam menjawab dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Siswa melaporkan hasil belajar kepada guru yang diakses melalui WA orang tua sebagai wujud tanggung jawab dan keterlibatan orang tua peserta didik dalam mengawasi belajar anak di rumah.

Strategi kedua guru memberikan tugas program khusus sesuai rutinitas kegitan sehari-hari, seperti beribadah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, menyiram bunga, menyuci piring, menyapu, olah raga, menyapu, serta kegiatan bermanfaat lainnya. Tujuan program khusus ini untuk membiasakan anak agar dapat belajar mandiri dan membangun nilai karakter peserta didik dalam melaksankan aktifitas sehari-harinya.

Strategi ketiga guru memberikan tugas keterampilan sesuai kondisi dilingkungan rumah, seperti menanam sayur, membatik, desain grafis, memihara ternak, serta kegiatn keterampilan yang bermanfaat lainnya. Tujuan dari tugas keterampilan ini agar peserta didik bisa meningkatkan kemampuan yang dimilikinya sehingga jika lulus anak berkebutuhan khusus bisa memiliki keterampilan.

Laporan penilaian bisa ditunjukkan dengan angket rutinitas kegiatan sehari-hari yang dikoreksi dan ditandatangani orang tua peserta didik. Meskipun pembelajaran jarak jauh, orang tua atau siswa dapat berkomunikasi dengan guru apabila ada kesulitan dalam mengerjakan tugas atau kesulitan belajar lainnya melalui grub WA orang tua.

Strategi kelima guru memberikan materi melalui video youtube sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat memahami materi dengan mudah. Penggunkan video youtube, bisa dilakukan dengan cara guru mendownload video dari youtube kemudian guru mengshare ke grub WA orang tua atau guru membagikan link youtube. Setelah itu oarng tua dan peserta didik berkolaborasi dengan menonton dan mempelajari video  youtube yang dibagikan. 

Strategi keempat guru menggunakan aplikasi Rumah Belajar dalam membantu kegiatan belajar peserta didik, baik penggunaan sumber belajar, buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, serta wahana jelajah angkasa. Dimanana orang tua medampingi peserta didik dalam menggunkan aplikasi Rumah Belajar. (*)  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Nilai Positif dan Negatif Pembelajaran Daring                 Peristiwa pandemik wabah Corona yang sedang melanda saat ini, dapat dimaknai ...